Jumat, 16 Oktober 2015

Bahaya Laten Stalking

#Hari Keduabelas Bulan Blogging KBM UGM 

Berdasarkan survei yang asal-asalan, hampir setiap manusia ber-gadget, atau setidaknya memiliki akun media sosial, pernah melakukan tindakan stalking. Mengapa bisa saya simpul hasil survei berbunyi seperti itu? Barangkali karena pada dasarnya manusia punya sifat selalu ingin tahu. Termasuk ingin tahu masa lalu orang lain.

Lantas, apa itu stalking? Stalking adalah daya, upaya, dan usaha seseorang yang jatuh cinta atau putus asa atau curiga untuk mengecek akun media sosial orang yang ia jatuh cintai atau ia curigai. Upaya ini biasanya tak jauh-jauh dari urusan percintaan. Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang seseorang stalking orang yang tidak ia kenal. Para selebtweet misalnya. Alasannya ya teuteup: karena kita ingin tahu apa yang dilakukan oleh orang lain. Atau ingin tahu gagasannya semata.

Ketika saya mengecek kata dasar dari “stalking” yaitu “stalk” dalam kamus Enggres, saya justru menemui makna “batang, tangkai, mengejar, dan mengikuti”. Kok kurang pas dengan konsep stalking yang ada di kepala saya. Makna paling terterima barangkali makna terakhir yaitu mengikuti. Walaupun kurang pas juga. Lantas muncullah dalam kepala saya kata “menguntit” yang berasal dari kata “kuntit”. Rupa-rupanya kata ini, dalam KBBI, juga bermakna mengikut (dari belakang).

Sejatinya, menurut meme yang dibagikan oleh Mbak Fina di grup whats app, stalking sama halnya dengan intense research. Iya, stalking itu kan semacam penelitian yang dilakukan dengan intensitas yang cukup besar. Benar juga. Kok ya saya baru kepikiran. Kemana ajaaaa.

Ah ya sudahlah saya tetap pakai kata stalking. Lagi pula disini tidak akan dipermasalahkan muasal kata ini kok.

Pelaku stalking, yang biasa disebut sebagai stalker, sudah pasti adalah orang-orang yang punya rasa ingin tahu yang begitu besar. Segala macam aktivitas gebetan, mantan pacar, calon pacar mantan pacar, mantan pacarnya mantan pacar saja ingin ia ketahui. Kurang kerjaan? Tidak juga! Haram bagi kita menyebut para stalker sebagai orang yang kurang kerjaan. Nope! Mereka-mereka ini justru meluangkan waktunya yang begitu sempit demi memuaskan rasa ingin tahu tentang pribadi seseorang. Luar biasa bukan?

Para stalker ini juga wajib kita beri anugerah sebagai orang bermental baja. Gimana ndak? Dengan beberapa klik saja, mereka harus siap menghadapi kenyataan. Beruntung apabila kenyataan yang akan dihadapi adalah kenyataan yang baik, kalau buruk? Ya nasib!

Sebenarnya kita tahu bahwasannya stalking lebih banyak mudharatnya. Apalagi kalau urusan percintaan bertepuk sebelah tangan. Tapi para stalker ini tetap saja rajin korek-korek informasi demi terpuaskan rasa ingin tahunya.

Inilah yang saya sebut sebagai bahaya laten komunis, eh salah, bahaya laten stalking. Meskipun tahu akan menyakitkan, kita tetap memaksakan diri untuk lanjut men-scroll media sosial korban stalking. Seperti antara sadar dan tidak sadar, kita begitu gemar menyiksa diri sendiri. Lebih-lebih ketika melihat postingan korban stalking yang posting mesra-mesraan dengan orang lain. Tiba-tiba saja air mata sudah menggenangi mata kaki. Perasaan marah, sebal, dan geram akan terakumulasi dan menghasilkan pupusnya harapan. Mana bisa hidup kalau hidup sendiri tidak diselipi dengan harapan-harapan?

Maka kesimpulan saya satu, stalking bisa saja mengakibatkan kematian!

Tapi tenang dulu, para stalker tak perlu risau. Terlebih stalker yang juga merupakan adalah seorang perempuan yang curiga dan cemburu pada pacarnya, atau yang sedang naksir pada gebetannya. Menurut sepengetahuan saya yang seadanya, perempuan yang sedang dirasuki keinginan stalking akan berubah menjadi intelijen yang punya daya investigasi luar biasa. Melebihi para anggota FBI, CIA, dan juga MOSAD. Intel dalam negeri sih bukan lawan yang sebanding. Menyingkir saja!

Mungkin ini tawaran yang menarik buat BIN (Badan Inteligen Negara). Mereka bisa mulai melakukan rekruitmen intelijen dengan mencari para ahli stalker dengan jam terbang tinggi.


Kamu-kamu yang doyan stalking, tertarik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar